Psikolinguistik Suatu Pengantar: Mar’at, Samsunuwiyati

Psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan bahasa dan perolehan bahasa oleh manusia (Levelt, 1975). Sehingga terdapat dua aspek yang berbeda yaitu: perolehan yang menyangkut bagaimana seseorang, terutama anak-anak belajar bahasa dan kedua penggunaan yang artinya penggunaan bahasa oleh orang dewasa normal. (Mar’at, 2005: 1)
Dwibahasa adalah pengguasan dua bahasa.
Terdapat beberapa cara mengukur kedwibahasaan seperti yang ditetapkan oleh W.E. Lambert.
  1. Waktu interaksi seseorang terhadap bahasa kedua. Jika kecepatan reaksinya sama, maka dianggap sebagai dwi bahasa, misal dalam menjawab pertanyaan yang sama, tetapi dalam bahasa yang berbeda, disini yang diukur adalah kemampuan dalam segi ekpresinya.
  2. Kecepatan reaksi dapat di ukur pula dari bagimana seseorang melaksanakan printah yang diberikan dalam bahasa yang berbeda. Jadi, disini lebih melihat kemapuan dalam segi reseptifnya.
  3. Kemampuan seseorang melengkapkan suatu perkataan. Misal kepada subjek di berikan kata-kata yang tidak sempurna kemudian ia haru menyempurnakanya.  
  4. Mengukur kecenderungan (preferences) pengucapan secara spontan. Dalam hal ini kepada subjek di berikan suatu perkataan yang sama tulisanya, tetapi berebeda pengucapanya dalam dua bahasa. Mislanya. Tulisan nation harus di baca dan diucapkan secara spontan oleh kedwibahawan inggris-prancis, kemudain dilihat apa yang diucapknya, nasion (prancis) atau nesjan (inggris) (Mar’at, 2005: 92)
Hubungan antara bilingual dengan intelegensi
Wiesberger, 1935; Smith, 1939, cited in Mar’at, 2005: 93 menjelaskan bahwa, anak –anak yang dibersarkan dalam dwi bahasa mengalami hambatan dalam perkembangan inteleknya. Kerena anak harus berpikir dalam bahasa yang satu dan berbicara dlama bahasa yang lain, sehingga mederita kesalah mental, yang mengkibatkan hasil intelegensinya yang rendah (terutama tes yang menuntut kemampuan bahasa) (Mar’at, 2005: 93).

Pengajaran bahasa asing 
Perbedaan antara seorang anak belajar bahasa pertama dengan belajar bahasa asing yang dilakukan oleh orang dewasa. Lebih detail lihat di Pembelajaran Bahasa Asing.

A. Masalah waktu yang digunakan
Waktu yang digunakan anak untuk belajar bahasa pertama jauh lebih banyak dari pada waktu yang disediakan untuk belajar bahasa kedua (asing).

B. Masalah peranan guru
Orang tua mengajarkan anaknya bukan benar-benar menjadi guru, secara tidak sadar menstimulasi atau membetulkan kalimat, tidak menerangkan seperti guru. Dalam melakukan koreksi orang tua hanya sebatas pada aspek semantic bukan sintak. Sedangkan guru akan mengajarkan bahasa kedua dengan sadar dan memberikan stimulasi, koreksi dan penjelasan.

C. Masalah materi dan metode pengjaran
Guru dikelas menggunakan metode dan buku pegangan dalam mengajar bahasa kedua. Sedangkan orang tua tidak.

D. Masalah motivasi
Motivasi belajar bahasa pertama lebih besar dari pada bahasa kedua.

E. Masalah fungsi kognitif
Pada seorang anak pada saat belajar bahasa pertama terjadi kesejajaran antara perkembangan conceptual system dengan struktur kalimatnya. Sedangkan pada orang dewasa terdapat suatu gap (kesenjangan) antara tingkat perkembangan conceptual system dengan struktur kalimat yang masih sederhana (karena baru belajar) dalam bahasa kedua (bahasa asing).

F. Masalah keurutan perolehan
Saat belajar bahasa pertama, keterampilan auditif berjalan bersama dengan keterampilan visual.

G. Masalah percaya diri
Perasaan tidak percaya diri lebih sering muncul pada waktu belajar bahasa kedua. Karena takut berbuat kesalahan. Hal ini tidak muncul pada saat belajar bahasa pertama.

H. Masalah interferensi bahasa
Pada waktu belajar bahasa kedua, lebih mudah terjadi interferensi, karena sering kita memakai struktur bahasa pertama untuk bahasa kedua. Anak yang belajar bahasa pertama tidak mengalami maslah ini.

I. Masalah usia
Terdapat beberapa keuntungan bagi anak yang belajar bahasa asing sebelum usia 12 tahun, karena memang usia berperan penting dalam belajar bahasa kedua.
  1. Dalam hal pengucapan. Sesudah usia 10 tahun, sistem motorik akan mengalami kesulitan dalam mengadaptasi diri pada bahasa kedua karena sistem tersebut telah menyatu selama masa kanak-kanak. Contoh. Logat bahasa pertama tidak dapat hilang
  2. Anomia tidak ada. Perasaan anomania (takut berbuat salah) cenderung tidak ada pada anak-anak
  3. Dalam hubungan dengan neurofisiologi dari otak. Pada usia 9/10 tahun anak-anak otak akan menglami kesukaran dalam belajar bahasa (penfield and Robert, 1954). Pada masa Anak-anak berjalan bersama dengan perkembangan neurofiiologi
  4. Maslah waktu. Waktu yang digunakan untuk belajar dan latihan dengan sendirinya lebih banyak bilamana belajar bahasa asing
  5. Fungsi kognitif. Pada usia 12-13 tahun, conceptual system sudah berkembang sedemikain rupa, sehingga anak-anak mampu berifkir secar ilmiah (scientific way), yakni mengobservasi data bahasa, belajar tentang aturan-aturanya dan menerapkan aturan aturan tersebut pada data lain. Dengan demikian, mereka agak segan melakukan latihan. Hal ini tidka dialmai bila mereka jauh lebih muda
  6. Motivasi. Pada usia sebelum 12 tahun motivasi utnuk belajar bahasa lebih besar
  7. Situasi belajar. Semakin muda maka ia berada pada situasi yang lebih menyenangkan (favourable). Karena dia mempunyai kesemaptan untuk mengasosiakan bunyi dengna situasinya, belajar mengkombinasikan situasi dengan alat linguistic untuk mengekspresikan sesuatu dalam situasi yang informal (sambil bermain). Hal ini berbeda dengan kegiatan di kelas yang hanya duduk, akan tetapi tetap bisa di bantu dengan video dan lain-lain (Mar’at, 2005: 94-96).
Reference: Mar’at, Samsunuwiyati. (2005). Psikolinguistik Suatu Pengantar. Refika Aditama: Bandung.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Psikolinguistik Suatu Pengantar: Mar’at, Samsunuwiyati"

Posting Komentar