Penerapan Metode Penerjemahan Interpretasi Puisi oleh Susan Bassnett

Abstrak

Puisi sebagai salah karya sastra fiksi yang menggunakan bahasa yang singkat dan Indah. Puisi tidak hanya dibaca, tetapi juga didengar dan dibacakan, sehingga penerjemahan dalam puisi menekankan gaya dan makna. Terkait dengan penerjemahan puisi terdapat beberapa metode penerjemahan puisi yang dikemukakan oleh Bassnet (2002) yang bersumber dari bukunya berjudul Translation Studies. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan membahas tentang penerapan metode penerjemahan interpretasi pada puisi yang menekankan pada makna puisi. Makna puisi sebagai pesan yang ingin disampaikan oleh penulis harus dipahami. Oleh karena itu, metode interpretasi menjadi salah satu metode untuk dijabarkan dan akan dibahas dalam beberapa puisi yang menggunakan metode ini.

Kata kunci: penerjemahan, penerjemahan puisi, metode interpretasi

A. Pendahuluan

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang syarat akan keindahan. Bahasa yang digunakan dalam puisi mengadung makna estetika. Puisi umumnya di tulis, dibaca, dan didengarkan dengan lebih intensif dari pada bahasa biasa. Sebuah puisi dapat diinterpretasikan berbeda – beda antara oleh setiap pembaca atau pendenger. Oleh karena itu puisi juga disebut sebagai karya sastra yang bersifat subjektif. Dalam memahami sebuah puisi penikmat puisi harus memahami unsur intrisik maupan ekstrinsik yang termaut didalamnya. Hal ini untuk untuk mendapatkan kualtias bahasa kata yang disampaikan karena bahasa puisi yang cenderung bermakna konotatif dan menggunakan gaya bahasa tertentu.

Puisi sebagai salah satu karya sastra fiksi bisa berupa karya sastra asli dan berupa karya sastra terjemahan. Puisi terjemahan, tentunya harus memperhatikan unsur – unsur pembentuk puisi rima, tipografi, kata konkret, pengimajian, majas, diksi, tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat (Kosasih, 2008:32-40). Adanya perbedaan makna antara teks asli dan teks terjemahan dari unsur – unsur tersebut menjadi kesulitan tersendiri dalam penerjemahan. 

Selain memahami tentang puisi, penerjemahan puisi juga harus memahami teori penerjemahan dan penerjemahan puisi. Penerjemahan dapat diartikan sebagai pengalihbahasaan berupa perubahan, merujuk, memproduksi dan menggantikan teks, kata, frasa, dan kalimat dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa) (Tanjung, 2015:6). Penerjemahan melibatkan aspek – aspek linguistik dan ekstra linguistik dari BSu dan BSa. Aspek –aspek tersebut sangatlah berbeda antara BSu dan BSa. 

Terkait dengan penerjemahan puisi, teori metode penerjemahan puisi dikemukakan oleh Bassnett (2002) dalam buku yang berjudul “Translation Studies”. Dalam teori ini dikemukakan tujuh metode penerjemahan puisi yang mencakup, yaitu 1) phonemic translation, 2) literal translation, 3) metrical translation, 4) poetry into prose, 5) rhymed translation, 6) blank verse translation, dan 7) interpretation (Bassnett, 2002:87). Berdasarkan metode- metode tersebut dapat digunakan untuk menerjemahkan teks puisi. Akan tetapi setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak sepenuhnya bisa mencakup unsur-unsur dalam puisi terjemahan. Metode penerjemahan fonemik, literal, rima, dan metrikal menekankan gaya dan keindahan puisi, sedangkan metode penerjemahan puisi ke prosa, bait secara bebas, dan interpretasi menekankan pada makna.

Makna dalam sebuah puisi merupakan pesan yang terkadung dalam puisi, tidak hanya didengar atau dibacakan, sebuah puisi juga perlu dipahami. Oleh karena itu metode penerjemahan interpretasi sebagai salah satu metode penerjemahan puisi dapat dijadikan salah satu pedoman untuk menerjemahanakan puisi yang menekankan makna. Metode ini menakankan pada unsur semantik puisi pada BSu sehingga topik dan tema dari puisi dapat dipahami oleh pembaca target. Unsur semantik dan topik puisi BSu dan BSa dapat ditemukan padananya sedekat mungkin dengan metode interpretasi. 

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam artikel ini akan menjabarkan penerapan teori metode penerjemahan interpretasi pada puisi oleh Bassnett (2002) yang bersumber dari buku berjudul “Translation Studies”. Puisi-puisi yang dijadikan subjek dalam penerepan metode ini adalah puisi terjemahan berbahasa Inggris yang bersumber dari bahasa Indonesia.

B. Kajian Teori

1. Penerjemahan

Study penerjemahan lebih dikenal dengan istilah penerjemahan yang masih dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran bahasa asing. Penerjemahan melibatkan alihbahasa dari BSu ke BSa untuk mendapatkan makna yang sama dan struktur yang mendekati bentuk asli agar tidak terdistorsi BSa (Bassnett, 2002:12). Pendapat Bassnet sejalan dengan Nida and Taber (1982:12) yang menyebutkan, penerjemahan mengungkapkan kembali pesan dalam BSu kedalam BSa dengan menggunakan kesepadanan yang wajar dan terdekat baik ditinjau dari segi makna maupun gaya. 

Dapat disimpulkan bahwa penerjemahan merupakan tindak alihabhasa yang melibatkan BSu dan BSa dengan menciptakan padanan yang paling dekat baik makna, gaya, dan struktur bahasa. Penerjemahan berusaha semakimal mungkin melakukan padanan dalam hal makna, gaya, dan struktur bahasa untuk menyampaikan pesan agar dapat dipahami dengan baik oleh pembaca target. 

2. Puisi

Puisi sebagai karya bersifat imajinatif, menggunakan bahasa sastra bersifat konotatif karena banyak menggunakan makna kias dan makna lambang atau majas. Puisi adalah salah satu karya sastra yang disusun untuk mengekpresikan ide, gagasan, perasaan dan emosi penyair dengan menggunakan kata-kata yang indah, melebihi bahasa yang digunakan sehari-hari. Pengertian puisi Menurut Kamus Istilah Sastra puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait (Sudjiman, 1984). Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Dapat disimpulkan bahwa puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang dalam penyajiannya sangat mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna. Puisi mengandung unsur-unsur seni atau keindahan karena di dalam puisi terdapat kata-kata indah yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membuat para pembaca berkeinginan untuk membaca dan menyikap maksud yang tersirat. Selain itu, puisi mengekpresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan imajinasi dalam susunan yang berirama.

3. Metode Penerjemahan Puisi

Penerjamahan puisi sangat berkaitan erat akan unsur estetika, rima, irama, dan pesan, sehingga terdapat beberapa metode pada penerjemahan puisi yang berbeda dengan teks lainya. Terdapat tujuh jenis metode penerjemahan puisi yang biasa digunakan oleh penerjemah (Bassnett, 2002:87). Penjabaran ke-tujuh metode tersebut antara lain:

a. Penerjemahan fonemik (phonemic translation)

Metode perjemahan fonemik yaitu metode pengalihan makna dari puisi asli ke puisi sasaran dengan menciptakan kembali suara dari BSu ke BSa. Metode ini menekankan pada bunyi pada BSa, akan tetapi hasil terjemahanya terasa kaku dan makna puisi asli seringkali menghilang. 
Pada penggalan puisi ditas bunyi /d/ pada akhir kata diterjemahkan dengan bunyi /a/ pada bahasa sumber. Penekanan bunyi tetap dirasakan pada BSa walaupun konsonan berubah menjadi vokal. Konsuenksi dari penerjemahan fonemik memang menyebabkan makna kurang akurat atau kabur, hal ini terlihat dari kata hound yang bermakna anjing diterjemahkan menjadi kuda dalam bahasa sasaran. Kata kuda tetap bisa digunakan karena tidak menghadirkan metafora pada puisi dan masih ada kesepanan penerjemahan.

b. Penerjemahan literal (literal translation)

Metdoe ini diterapkan untuk menerjemahkan teks puisi kata demi kata dari BSu ke BSa. Resiko penerjemahan ini yaitu menghilangkan makna, struktur frasa dan kalimat yang melenceng jauh dari strutkur aslinya.
Penerjemahan literal mengkibatkan makna, struktur frasa, dan kalimat melenceng dari struktur asli. Frasa puisi “summer day” di Inggris merupakan waktu yang sangat indah dimana matari bersinar terang dan bunga – bunga bermekaran. Akan tetapi jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “musim panas” tentunya akan memiliki citra yang berbeda karena musim dicitrakan dengan sawah – sawah kering, tanah retak, dan sungai – sungai yang mengering. Citra keindahan “summer day” terhadap “musim panas” yang gersang di Indonesia sangat bertolak belakang. Mengingat adanya citraan yang amat penting dalam keseluruhan puisi yang utuh maka penerjemahan puisi karya Shakespeare ini tetap mempertahankan gambaran musim panas di Inggris ke dalam benak para pembaca.

c. Penerjemahan rima/ sajak (rhymed translation)

Terjemahan rima adalah penejemahan puisi yang menekankan paca pencarian atau reproduksi rima asli ke dalam irama puisi terjemahan. Hasil terjemahannya akan sesuai secara fisik tetapi cenderung tidak sesuai secara makna.
Hasil terjemahan penggalan puisi ini secara fisik memiliki sajak yang sama, pada puisi asli bersajak g g, sedangkan pada puisi sasaran bersajak u u. Hasil terjemahan menghasilkan gaya indah. Pada contoh ini makna dapat tersampaikan dengan baik, akan tetapi dalam beberapa kasus makna puisi menjadi tidak sesuai.

d. Penerjemahan metrikal / irama (metrical translation)

Penerjemahan metris adalah penerjemahan yang menekankan pada produksi metris atau irama yang sama antara puisi asli dan puisi teks sasaran. Setiap bahasa memiliki sistem penekanan dan ejaan masing-masing. Karena itu metode ini akan menghasilkan hasil terjemahan yang tidak sesuai secara makna dan struktur.
Pada penerjemahan puisi di atas, penerjemah fokus pada meter puisi. Penekanan antara puisi asli dan terjemahan sama. Berdasarkan contoh diatas pada bait pertama adalah penekanan 9 dan puisi target juga memiliki penekanan 9 yang diterapkan secara sempurna pada bait berikutnya.

e. Puisi ke prosa (poetry into prose)

Penerjemahan puisi ke prosa adalah penerjemahan makna ke teks sasaran dalam bentuk prosa. Kelemahan dari metode ini adalah hilangnya sisi keindahan dari puisi asli. Metode ini menimbulkan adanya distorsi rasa, nilai komunikatif, dan sintaksis dari teks sumber.

Teks puisi BSu

O, my love is like a red, red rose,
That is newly sprung in June.
O, my love is like the melody,
That is sweetly played in tune. (A Red, Red Rose by Robert Burns)

Teks puisi BSa

Burns, sang penyair, berusaha untuk menjelaskan cinta nya dengan suatu bunga mawar. Sekuntum bunga indah merah merekah pada bulan Juni di musing semi. Cinta nya juga seperti musik yang memberi emosi yang intensif. (Untitled, translated by Sarif Syamsu Rizal)

Pada terjemahan puisi diatas, penerjemah tidak hanya menerjemahkan dalam bahasa target, tetapi juga merubahnya menjadi prosa dengan mengkombinasikan setiap bait menjadi paragraf.

f. Bait secara bebas (blank verse translation)

Penerjemahan bait secara bebas Penerjemahan bait secara bebas adalah penerjemahan dengan memindahkan makna puisi asli dengan menggunakan padanan yang akurat dan memiliki nilai sastra dalam BSa. Penggunaan metode ini cenderung mengabaikan rima dan metris puisi asli. Hasil terjemahannya akan berbeda secara fisik, tetapi secara semantik sama. 
Terlihat sekali bahwa pada hasil terjemahan menekankan pada unsur sastra dengan pemilihan diksi bahasa Indonesia. Pembaca puisi ini seolah – olah tidak merasakan sedang membaca puisi terjemahan. Unsur sastra bisa dirasakan pada semua bait. Pada bait pertama kata did not obey good words di terjemahkan tak patuhi perintah. Pada bait kedua kata shoked diartikan lara, dan nerveous diartikan serta. Pada bait ketiga neighs the horse at the stable diterjemahkan sayup-sayup ringkikan. Bait ke empat jurney service diterjemahan perjalanan panjang. Secara harfiah hasil terjemahanya sangat berbeda akan tetapi dari segi makna lebih akurat dan berterima.

g. Interpretasi (Interpretation)

Ada dua jenis metode interpretasi, yaitu “versi” dan “imitasi”. Hasil terjemahan “versi” mengacu pada puisi yang secara semantik sama dengan puisi asli, tetapi secara fisik sangat berbeda. Sedangkan terjemahan “imitasi” menghasilkan puisi yang sangat berbeda, tetapi susunan, topik, dan starting point sama dengan puisi asli.

Teks puisi BSu

O, my love is like a red, red rose,
That is newly sprung in June.
O, my love is like the melody,
That is sweetly played in tune. (A Red, Red Rose by Robert Burns)

Teks puisi BSa diterjemahkan oleh Sarif Syamsu Rizal
Dari dua penerjemahan diatas, penerjemah menggunakan metode intepretasi, dan terdapat dua hasil, yaitu pertama metode “versi”, hasil terlihat seperti puisi asli, tetapi dengan bentuk sedikit berbeda. Kedua metode “imitasi”, hasil berbeda dengan puisi asli, baik bentuk dan fitur linguistiknya tetapi memiliki ide yang sama dengan puisi asli.

Penerjemahan fonemik, penerjemahan literal, penerejamhan rima (sajak), metrikal (irama) menekankan pada bentuk atau struktur poetik dari sebuah puisi, sedangkan penerjemahan puisi ke prosa, bait secara bebas, dan interpretasi menekankan pada makna yang akan dipindahkan dari BSu ke Bsa. Semua metode di atas hanya menekankan pada satu atau beberapa komponen poetik. Selain itu, suatu puisi memiliki satu kesatuan elemen, jika satu eleman dengan eleman lainya tidak saling berkaitan, maka makna hasil terjemahan puisi secara keseluruhan akan rusak

C. Pemabahasan

Penerpaan teori metode penerjemahan interpretasi pada puisi menurut Bassnett (2002) menjelaskan bahwa secara semantik penerjemahan metode interpretasi memiliki makna yang sama antara teks puisi BSu dan BSa. Berikut contoh terjemahan puisi dengan judul Geneva Bulan Juli karya Toeti Heraty sebagai teks puisi BSu dan diterjemahkan dengan judul Geneva in July sebagai teks puisi BSa yang diterjemahkan oleh Ulrich Kratz (Anggana, 2012)

Jumlah penggunaan metode penerjemahan pada puisi terjemahan Geneva in July antara lain sebagai beirikut: 

Tabel 1: Metode penerjemahan yang digunakan puisi Geneva Bulan Juli menjadi Geneva in July.
Sumber: Anggana, 2012

Pada penerjemahan puisi diatas, metode yang paling banyak digunakan adalah metode interpretasi, sehingga puisi diatas dapat dijadikan contoh penerapan metode ini. Metode interpretasi muncul pada bait/ stanza 4, 7, 8, 10, 11, 12 and 13. Jumlahnya lebih banyak dari pada metode penerjemahan literal dan metode penerjemahan rima. 

Metode interpretasi dianggap paling cocok untuk penerjemahan puisi diatas karena puisi dapat dialibahasakan secara semantik sama dengan puisi aslinya, walaupun secara fisik berbeda. Penjelasan metode interpretasi setiap pada bait (stanza) puisi diatas sebagai berikut

1. Bait (Stanza) 4
Pada bait ke empat menggunakan metode interpretasi jenis “versi”. BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda. Puisi asli mengandung 5 garis sedangkan terjemahanya hanya 4 baris. Terdapat kata terjemahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang lebih singkat.

2. Bait (Stanza) 7
Pada bait ke tujuh juga menggunakan metode interpretasi jenis “versi”. Bait ini terdiri dari 4 garis pada puisi asli dan 3 baris pada puisi terjemahan. Teks puisi BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda.

3. Bait (Stanza) 8

Pada bait ke delapan terdiri dari 5 garis dan menjadi 4 baris. Penerjemahan puisi ini dengan metode interpretasi jenis interpretasi “versi”. Teks puisi BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda.

4. Bait (Stanza) 10
Pada bait ke sepuluh terdiri dari 4 garis pada puisi asli menjadi 3 baris pada puisi sasaran dengan metode penerjemahan jenis interpretasi “versi”. Teks puisi BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda.

5. Bait (Stanza) 11
Pada bait ke sebelas terdiri dari 6 garis pada puisi asli menjadi 4 baris pada puisi sasaran dengan metode penerjemahan jenis interpretasi “versi”. Teks puisi BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda.

6. Bait (Stanza) 12
Pada bait ke dua belas terdiri dari 4 garis pada puisi asli menjadi 5 baris pada puisi sasaran dengan metode penerjemahan jenis interpretasi “versi”. Teks puisi BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda.

7. Bait (Stanza) 13
Pada bait ke tiga belas terdiri dari 3 garis pada puisi asli menjadi 2 baris pada puisi sasaran dengan metode penerjemahan jenis interpretasi “versi”. Teks puisi BSa secara semantik memiliki sama dengan BSu, tetapi secara fisik berbeda.

Berdasarkan pembahasan diatas Ulrich Krazt menerjemahkan puisi diatas dengan metode interpretasi jenis “versi” yang secara semantik memiliki makna yang sama antara puisi asli dan puisi sasaran dengan jumlah baris lebih sedikit pada puisi terjemahan ke bahasa Inggris, kecuali pada bait ke 12 dengan jumlah bait lebih banyak. 

D. Kesimpulan

Pada penerjemahan puisi pada dasar akan dihadapkan pada dua hal yaitu yang penting yaitu makna atau gaya. Penekanan puisi pada makna akan menyebabkan unsur keindahan puisi hilang. Disisi lain jika menekankan pada gaya maka makna dan pesan yang sampaikan puisi akan menjadi rancu. Baik penekanan pada makna dan gaya memiliki konsukuensi hasil terjemahan yang berbeda baik dari segi kekuranganya maupun kelebihanya. 

Bassnett (2002) memberikan penjabaran metode penerjemhan yang dapat digunakan pada penerjemahan puisi, sehingga seorang penerjemah dapat menekankan hasil terjemahan apakah cenderung ke makna atau gaya. Berdasarkan tujuh metode penerjemhan puisi dapat simpulkan bahwa, metode penerjemahan fonemik, penerjemahan literal, penerejamhan rima (sajak), metrikal (irama) menekankan pada bentuk atau struktur gaya dan keindahan dari sebuah puisi, sedangkan metode penerjemahan puisi ke prosa, bait secara bebas, dan interpretasi menekankan pada makna yang akan dipindahkan dari BSu ke Bsa. 

Metode penerjemahan puisi interpretasi merupakan salah satu metode yang menekankan pada makna. Puisi yang mengandung arti sama menurut sudut pandang antara pengarang dan penerjemah dinamakan metode interpretasi “versi”. Metode interpretasi jenis “versi” mencari kesaaman semantik sedekat mungkin antara puisi BSa dan BSu. Selain itu pada metode penerjemahan yang menghasilkan puisi yang sangat berbeda, tetapi topiknya sama dengan puisi asli dinamakan metode penerjemahan interpretasi “imitasi”. Kedua jenis metode penerjemahan interpretasi ini dapat diterapkan untuk penerjemahan puisi dengan mengutamakan makna atau pesan dan topik puisi.

Baca: The Aim of A Good Translation

E. Daftar Pustaka

  • Anggana, Rezki Lintang. 2012. Textual Elements And Translation Methods Of Toeti Heraty’s Poems Translated By Ulrich Kratz. Tesis. Semarang: Udinus.
  • Bassnett, Susan. 2002. Translation Studies. London: Routledge.
  • Kosasih, E. 2008. Dasar-dasar Keterampilan Bersastra. Bandung: Yrama Widya.
  • Nida, E. A and Taber, C. A. 1974. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill.
  • Suryawinata, Zuchridin dan Hariyanto, Sugeng. 2003. Translation: Bahasan Teori dan Penuntun Praktis Menerjemahkan. Yogyakarta: Kanisius.
  • Sudjiman, Panuti. 1984. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
  • Tanjung, S. 2015. Penilaian Penerjemahan Jerman-Indonesia. Yogyakarta: Kanwa Publisher.
  • Tirtawirya, Putu Arya. 1980. Apresiasi Puisi dan Prosa. Bandung: Nusa Indah.
Artikel ilmiah berbasis kajian pustaka diatas telah dikumpulkan pada salah satu tugas kuliah beberapa waktu lalu. Artikel imliha ini membahas tentang penerapan salah satu metode penerjemahan puisi yaitu metode intepretasi. Teori yang digunakan yaitu metode penerjemahan puisi oleh Bassnett (2002) yang juga telah dibahas dalam versi bahasa Indonesia oleh Suryawinata dan Hariyanto (2003). Selain itu, contoh - contoh penerapan metode penerjemahan interpretasi dikutip dari tesis Anggana (2012). 

Beli buku sekarang

Penerjemahan Bahasa Inggris-Indonesia (Teori dan Praktik)

Bahasa Dan Terjemahan

Kaya lewat Terjemahan: Menyingkap Rahasia Sukses Bisnis Alih Bahasa

Metode Penelitian Linguistik Terjemahan

Al-Quran disertai Terjemahan & Transliterasi

Kamus Besar Bahasa Indonesia

13 Responses to "Penerapan Metode Penerjemahan Interpretasi Puisi oleh Susan Bassnett"

  1. salam..
    malam bro

    saya boleh minta masukan tentang metrical translationnya gak yang diartikel atas, maksdnya sembilan itu apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 9 pada matrikal translation itu merupakan kode irama. 9 bisa diganti dengan A misal menjadi AB AB. Seharunya memang diganti dengan kode A atau B. Kebetulan contoh diatas saya ambil dari penelitian Anggana. Bisa dicari sumbernya berdasar referensi diatas

      Hapus
    2. A B itu seperti rima ya? Bro agung? Misal ab ab gitu atau gimana Mohon masukannya ya

      Hapus
    3. Penerjemahan rima dan penerjemahan irama berbeda. Kalau mencari A B saja itu penerjemahan rima, tetapi metrikal/ irama itu lebih menekankan adanya suatu irama antara BSu dan BSa walau huruf terakhir baik vokal dan konsonanya berbeda. Contohnya mungkin bisa cek pada lagunya Fatin yang berjudul away versi Inggris dan Indonesianya

      Hapus
    4. Okkedeh..makasih ya kawan atas respon dan jawabannya. Saya coba pahami lagi

      Hapus
    5. Sama-sama Gan. itu hanya sejauh pemahaman saya saja. Rujukan bukunya bisa gunakan Bassnett versi Inggris dan Suryawinata dan Hariyanto versi Indo

      Hapus
    6. Kebetelun buku S.Bassnett saya ada..kalau suryawinata kayak agan bilang saya belum punya.
      Makasih ya mantap..nice infonya

      Hapus
    7. Gan, cara akses file suryawinata, anggana itu gmn ya? Saya mau baca tp sepertinya tidak bisa ya?

      Hapus
    8. Gan, Mohon bantuannya ya, Puisi o, my love diatas karya siapa? Terus siapa yg terjemah gan?

      Sm kalau bisa saya mau baca yg suryawinatanya gan, krn saya cari googling gak bisa ketutup

      Mohon bantuannya ya gan

      Hapus
    9. Puisi tersebut merupakan karya Robert
      Burns yang diterjemahkan oleh Sarif Syamsu Rizal.
      Suryawinata saya baca di Google Book mas. Sebenarnya saya juga masih nyari versi komplitnya

      Hapus
  2. Okkedeh kalau gitu bro agung,
    Makasih yaa...mantap tulisannya beemanfaat..
    Bikin" lg yg lain bro

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama - sama Gan. Semoga bermanfaat

      Hapus