Putusnya Tali Bahasa Jawa

Secara umum sebagian besar orang memandang kalau bahasa Jawa itu adalah salah satu bahasa daerah yang paling eksis, bahkan paling banyak digunakan di Indonesia. Lebih dari itu bahasa Jawa juga digunakan di 6 negara lain seperti Suriname, Malaysia, Suriname, Belanda, Kaledonia Baru,  dan Cocos Island (Australia). Banyaknya masyarkat Jawa yang melakukan transmigrasi menjadi

[caption id="" align="aligncenter" width="443"] Gambar: rapat pemuda masyarkat Jawa[/caption]

Perlu kita tahu lebih mendalam bahwa bahasa Jawa tediri dari tiga tingkatan aturan tata krama berbahasa (undhak-undhuk) yaitu:

  1. Ngoko, merupakan ragam bahasa informal yang digunakan oleh antar masyarkat tutur dengan latar belakang teman sebaya, kerabat dekat, dan kepada lawan bicara yang memiliki status sosial yang lebih rendah. Tingkat tutur ngoko juga mencerminkan rasa tak berjarak antara penutur (O1) terhadap mitra tutur (O2 ).

  2. Madya, jenis ini umumnya digunakan di antara para penutur yang tidak akrab, seperti penanya di jalan di mana satu sama lain tidak mengetahui kelas sosialnya, dan ketika seseorang ingin berbicara tidak terlalu formal dan juga tidak terlalu informal.  Ragam ini berada di antara ngoko dan krama.

  3. Krama, merupakan ragam formal yang digunakan oleh masyarkat tutur dengan status sosial yang lebih rendah kepada lawan bicaranya dengan status sosial yang lebih tinggi, termasuk dari yang lebih muda terhadap yang lebih tua.


Kalau bahasa ngoko memang masih banyak digunakan akan tetapi jika bahasa Madya dan Krama sangat jarang digunakan, hanya digunakan interaksi kepada orang yang lebih tua, orang baru, khutbah, acara keagamaan, acara formil.

Secara permukaan memang masih, akan tetapi sebenarnya generasi muda kelahiran tahun 80an, 90an, dan 2000an, sudah tidak bisa lagi menggunakan bahasa Jawa kromo. Generasi - generasi ini yang notabene jadi penutur lanjutan tidak lagi bisa memahami kosa kata bahasa kromo. Bahkan pada acara - acara formil di desa pun menggunakan bahasa Indonesia.

Sekalipun digunakan hanya disisipkan menjadi campur kode dengan persentase sangat kecil. Yang menjadi perhatian adalah keberlanjutan bahasa Jawa itu sendiri. Apakah bahasa Jawa akan putus dan hilang?

Bagaimana dengan eksistensi bahasa Jawa di desa kamu?

Referensi



  1. http://www.satujam.com/wow-ternyata-penduduk-di-7-negara-ini-menggunakan-bahasa-jawa/

  2. http://eprints.uns.ac.id/3073/1/64891606200905261.pdf

0 Response to "Putusnya Tali Bahasa Jawa"

Posting Komentar