5 Unsur Fisik dalam Puisi

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang yang dibagun dengan menggunakan irama dan sajak yang menimbulkan efek tertentu. Puisi seringkali juga mengandung kata kiasan yang disampaikan secara implisit. Secara etimologis puisi berasal dari bahasa Yunani poites artinya membentuk, membuat, dan membangun. Dalam bahasa Latin poeta artinya menimbulkan, membangun, menyebebkan, dan menyair.


Unsur fisik puisi

Puisi dibagun berasal dari dua unsur yaitu unsur fisik dan unsur batin puisi. Unsur fisik adalah unsur yang membangun puisi dari luar. Unsur ini terdiri dari diksi, pengimajinasian, kata konkret, bahasa figuratif, versifikasi, dan tata wajah (Waluyo, 1987:106 -130)

1. Diksi (pilihan kata)

Kata yang dipilih dalam puisi harus mempertimbangkan makna, bunyi, dan hubungan dengan kata lainya baik bait dan barisnya. Kata dalam puisi ada yang bersifat konotatif dan denotatif. Pemilihan kata dalam puisi biasanya menekankan keindahan. Kata yang bersifat konotatif dan berlambang dapat menimbulkan multi tafsir karena dapat memiliki lebih dari satu makna. Bahasa puisi cenderung padat, jadi pilihan kata sangat diperlukan.

2. Pengimajinasian

Pengimajinasian (imagery) merupakan kata atau rangkaian kata yang menimbulkan daya imajniasi kepada pendegar. Pengimajinasian atau imaji melibatkan unsur indrawi seperti pengelihatan, suara, dan peraba. Unsur imaji dapat menimbulkan imajniasi seolah - olah merasa, mendengar, atau melihat apa yang risaukan oleh penyair. Pengimajinasian dibagi menjadi tiga yaitu imajniasi audif (mendengar suara) yakni dengan kata - kata yang seolah - olah penikmat puisi mendegar, misal dalam "rintihan ibu pertiwi", imajinasi visual (melihat benda - benda) yakni seolah - olah penikmat puisi melihat kejadian "gemercik air hujan", imajinasi taktil (meraba dan menyentuh) yakni seolah - olah menyentuh / meraba misal "hembusan agin".

3. Kata konkret

Kata konkret merupakan perwujudkan dari kata - kata yang jelas, mudah dipahami, dan konkret. Melalui kata yang konkret puisi dapat dibayangkan dengan mudah oleh pendengar atau pembaca, sehingga seolah - olah pendegar puisi melihat, mendeger, dan merasakan apa yang digambaran peristiwa dan keadaan yang digambarkan oleh penyair.

3. Majas (Bahasa Figuratif)

Puisi sangat lekat dengan majas. Banyak perumpamaan yang ditampilkan melalui kata atau ungkapanya. Majas juga menimbulkan banyak makna sehingga puisi menjadi prismatif. Majas dalam puisi juga digunakan untuk membandingkan benda atau kata dan mengiaskan sesuatu dengan hal lain. Selain itu, majas juga mampu menyampaikan maksud penyair lebih efekif. Majas yang umumnya digunakan yaitu metafora, simile, anafora, dan paradoks.

4. Versifikasi (Rima, Ritma, dan Metrum)

Rima merupakan pengulangan bunyi yang digunakan untuk memunculkan pengulangan bunyi pada keseluruhan baris dan bait, sedangkan rima pada puisi lama disebut sajak (persamaan bunyi) yakni dengan pengulangan pada setiap baris. Ritma merupakan pengulangan pada frasa puisi yang juga disebut irama. Ritma diartikan pula sebagai naik turunya suara secara teratur. Metrum merupakan pengulangan tekanan kata.

5. Tata wajah (Tipografi)

Puisi tersusun membentuk bait, bukan paragraf. Puisi disusun secara berlarik - larik untuk menciptakan makna. Penerapan tipografi akan memperkuat penyajian puisi. Puisi tidak harus memenuhi atauran kepenulisan. Melalui tipografi ini, maka dapat dibedakan antara puisi dengan karya sastra lain seperti prosa dan scrip drama. Oleh sebab itu penggunaan huruf kapital dan tanda baca (titik, koma, titik titik titik, dan lain sebagainya) mempengaruhi makna puisi.

Selain unsur fisik, masih ada unsur batin seperti tema, perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), amanat (intention). Jenis tema puisi sudah kita bahas pada artikel sebelumnya yakni mengenal jenis tema puisi. Pembahasan unsur batin puisi akan dibahas pada artikel selanjutnya.

Sumber
Waluyo, H. J. (1987). Teori dan apresiasi puisi. Jakarta: Erlangga.

Beli buku sekarang

Panduan Wacana & Apresiasi Seni Baca Puisi

Panduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi

Puisi Baru

Kajian Puisi Indonesia Modern

0 Response to "5 Unsur Fisik dalam Puisi"

Posting Komentar