5 Variasi Bahasa dalam Sosiolinguistik

Variasi bahasa merupakan salah satu fenomena sosiolinguistik. Variasi bahasa terjadi adanya aspek kemasyarkatan dalam berbahasa. Sosiolinguistik sendiri berasal dari dua kata yaitu 'sosio' dan 'linguistic'. Kata sosio berarti berkaitan dengan masyarkat (sosial) dan linguistic adalah ilmu yang mempelajari bahasa. Dapat katakan bahwa sosiolinguistik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan antara masyarkat dan bahasa. Ilmu ini melihat bahasa dari sudut pandang penggunaanya di masyarkat.

4 Jenis Variasi Bahasa

Varisia bahasa timbul dari tindak tutur masyarkat. Oleh karenanya variasi bahasa berbagi menjadi 5 jenis yaitu (1) idiolek, (2) dialek, (3) tingkat tutur, (4) ragam bahasa, dan (5) register.

1. Idiolek

Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat individual. Variasi tersebut hanya tejadi pada satu orang dan berbeda dengan orang lain. Idiolek dapat dicirikan dari warna suara seseorang. Biasanya hanya dengan mendegar warna suaranya kita akan tahu siapa yang berbicara.

2. Dialek

Dialek merupakan variasi bahasa yang ada pada suatu wilayah tertentu dan seringkali menjadi ciri asal penutur. Kelas sosial juga dapat mengakibatkan dialek yang berbeda. Secara singkat faktor geografis dan sosial mempengaruhi dialek. Dialek biasanya berifat akumulatif bukan perseorangan. Misalkan suatu masyarkat berada disuatu wilayah terentu punya dialek yang sama.

Akan tetapi sebenarnya dialek bukan merupakan sebuah bahasa yang berbeda atau baru. Dialek masih menjadi bagian dari suatu bahasa. Variasi hanya berupa kata, frasa, intonasi, atau pengucapan yang sedikit berbeda dengan kata, frasa, intonasi, atau pengucapan pada bahasa yang sama.

Contoh: Bahasa Jawa memiliki beberapa dialek yakni dialek Surabaya, Jogja Solo, dan Banyumasan. Untuk menyebutkan kata 'kamu' dalam bahasa ada beberapa dialek yakni 'koe', 'siro', 'riko', 'ko', dan 'awak mu'

3. Tingkat tutur

Tingat tutur (speech level) variasi yang timbul adanya perbedaan mitra tutur. Penutur akan mempertimbangkan siapa yang menjadi mitra tuturnya. Mitra yang berbeda akan mengakibatkan penggunaan variasi yang berbeda. Tingkat tutur dilakukan secara sadar olah seseorang atau masyarkat tutur. Tingkat tutur juga bukan merupakan bahasa baru, tetapi masih pada bahasa yang sama. Tingkat tutur dapat dilihat dengan pilihan kata yang berbeda dengan orang yang berbeda. Hal ini juga menyakut kesopnaan terhadap lawan bicara.

Contoh: Bahasa jawa mengenal kesponanan, ketika berbicara dengan orang yang lebih tua atau dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi maka penutur akan cenderung menggunakan bahasa kromo, sedangkan untuk mitra yang sebaya akan menggunakan bahasa ngoko.

4. Ragam Bahasa

Ragam bahasa terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang penutur, tempat, dan situasi. Hal ini mengkibatkan ragam bahasa resmi (formal) dan tida resmi (non formal). Ragam formal digunakan pada acara resmi tentu dengan pilihan kata yang yang sesuai dengan situasi.

5. Register

Ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh seseorang atau masyarkat tutur untuk suatu keperluan tertentu. Register memiliki maksud dan fungsi tertentu sesuai dengan maksud penutur. Selain itu juga mencakup konteks sosial. Register dapat dijumpai baik dalam teks lisan maupun tulis. Register lisan pada bahasa politik berbeda dengan bahasa biologi. Meskipun ada beberapa kata yang sama, tetap maknanya berbeda. Register lisan pada bahasa iklan akan berbeda dengan bahasa koran.

Beli buku sekarang

Kajian Sosiolinguistik

Sosiolinguistik: Perkenalan Awal (Edisi Revisi)

Pengantar Sosiolinguistik

Sosiolinguistik

0 Response to "5 Variasi Bahasa dalam Sosiolinguistik"

Posting Komentar