The Sources of Foreign Language Speaking Anxiety

Rangkuman dari Balemir (2009) dari rangkaian penelitian tentang kecemasan terutama dalam berbicara lihat rangkuman lainya tentang Foreign language anxiety in speaking activity
Sources of Foreign Language Speaking Anxiety

Object of study 

The study was conducted at Hacettepe University, with the participation of 234 students from the departments of Basic English, Electrical and Electronics Engineering, International Relations and English Linguistics.

Research questions: 

In this study, the following questions will be addressed:
  1. What is the level of speaking anxiety among Turkish EFL learners?
  2. What is the relationship between learners‟ proficiency levels in L2 and their speaking anxiety in a Turkish EFL context? (hubungan antara kecemasan berbicara bahasa asing den kemampuan berbahasa)
  3. What are the potential sources of speaking anxiety in a Turkish EFL context?

Literature review

  • Sumber kecemasan berkaitan dengan ketakutan dalam membuat kesalahan, dimana siswa merasa citra mereka akan turun saat membuat keselahan, hal ini menjadikan mereka menjadi cemas bahkan terdiam (Aydin, 2001, cited in Balemir, 2009, p. 1)
  • Variable yang berkaitan dengan kecemasan bahasa asing antara lain: motivasi, jenis klamin, partisipasi kelas (Zhanibek, 2001, cited in Balemir, 2009, p. 1)
  • variable dalam kecemasan, jenis klamin, motivasi, waktu belajar (Bantumlu dan Erden, 2007; Dalkilic, , 2001, Huang, 2004)
  • Belajar bahasa keuda atau bahasa asing dianggap merupakan hal yang sulit. Sehingga mereka mengalimi kecemasan sebelum beljar bahasa asing dan pada saat pembelajaran bahasa tersebut berlangusng maka timbul kecenderungan prilaku kwatir sambil belajar bahasa kedua (Balemir, 2009, p. 2)
  • Brown (1994), kecemasan akan menghambat dalam penggunaan bahasa asing (Balemir, 2009, p. 2)
  • Horwitz et al. (1986). Mengembangkan kuisioner dalam mengukur kecemasan bahasa asing yang dinamakan Foreign Language Class Anxiety Scale (FLCAS) yang mencakup 3 komponen utama yaitu: kecemasan komunikasi, Tes kecemasan dan Takut pada penilaian negatitive (Aydin, 2001, cited in Balemir, p. 2)
  • Huang (2004) telah mengembangkan FLSAS : Foreign Language Speaking Anxiety Scale yand adaptasi oleh Young (1990) cited in Balemir (2009, p. 3)
  • Source: Bekleyen, 2004; Cheng, 2005, kepribadian dan hubungan guru-murid adalah dua factor penting yang dapat meningkatkan kecemasan di kelas bahasa, cited in Balemir, 2009, p. 4)
  • Solution: kecemasan siswa di kelas dapat berkurang jika guru dapat memiliki rasa humor. Dan hubungan yang baik antara guru dan murid (Yan and Horwitz, 2008, cited in Balem, 2009, p. 4)
  • beberapa hal yang diharapkan siswa seperti mengucapkan dengan sempurna dianggap sebagai hal yang tidak realistis yang pada akhirnya membuat mereka frustasi dan cemas (Aydın, 2001; Cheng, 2005; Ohata, 2005a, Wang, 1998, cited in Balemir, 2009, p. 5) (salah satu sumber kecemasan)
  • Kecemasan memang lebih besar atau secara umum pada tes speaking (Aydın, 2001; Huang, 2004, cited in Balemir, 2009, p. 5)
  • Berpicara berpasangan atau dalam kelompok juga dapat mengurangi kecemasan (Balemir, 2009, p. 5) (salah satu cara mengatasi kecemasan)
  • Source: salah satu sumber utama kecemasan, berbicara di depan kelas atau presentasi lisan telah ditemukan untuk (Balemir, 2009, p. 5) dan Cheng, 2005) hal paling merangsang kecemasan adalah berbicara di depan kelas
  • Contoh (Worde, 2003,cited in Balemir, 2009, p. 5) siswa merasa cemas saat bericara di depan umum dan menggangap kritis dari teman mereka.
  • (Huang, 2004, cited in Balemir, 2009, p. 6) siswa perempuan memiliki kecemasan yang lebih tinggi dari pada siswa laki-laki dan siswa yang memiliki motivasi yang lebih tinggi memiliki kecemasan yang lebih rendah
  • Batumlu dan Erden (2007), Dalkılıç (2001) dan Liu (2006) cited in Balemir, 2009, p. 6 siswa dengan kecemasan yang tinggi lebih di alami oleh siswa dengan kemampuan yang rendah (salah satu sumber kecemasan)
  • Kecemasan rendah di alami bagi siswa dengan kompensi yang tinggi Woodrow (2006), cited in Balemir, 2009, p. 6) (salah satu cara mengatasi kecemasan)
  • Brown (1994), dalam pembelajaran, learner merasa cemas disebabkan karena kurangnya keterampilan untuk mencapi hasil dalam pembelajaran (cited in Balemir, 2009, p. 2)
  • Memiliki perasaan negatif sehingga dapat menghambat dalam melakukan tugas (Wilson, 2006, cited in Balemir, 2009, p. 13) (salah satu dampak kecemasan)
  • Learner mearasa tidak senang dan frustasi dan menghasilkan kegagaglan (Zhanibek, 2001, cited in Balemir, 2009, p. 13) (salah satu contoh kecemasan)
  • Pembelajar L2 mengalami kesulitan karena kurangnya otomatisasi, sehingga hal ini menjadikan learner cemas (Huang, 1998, cited in Balemir, 2009, p. 19) (salah satu sumber kecemasan)
  • Tanver, 2007 Kurangnya pengatahuan linguistic menjadi salah satu penyebab keceamsan. Sebagai contoh: learner have to be able master in all of language effectively (salah satu cara sumber kecemasan)

Pengertian Anxiety:

  1. Spielberger (1983): kecemasan adalah "perasaan gelisah, frustrasi, keraguan diri, ketakutan, atau khawatir" (“feelings of uneasiness, frustration, self-doubt, apprehension, or worry”) (Spielberger, 1983, dikutip dalam Wilson, 2006, p. 41, cited in Balemir, 2009, p. 2).
  2. Scovel (1991) : kecemasan adalah "keadaan ketakutan, dan ketakutan yang tidak jelas yang hanya secara tidak langsung berhubungan dengan objek" (“a state of apprehension, and a vague fear that is only indirectly associated with an object”) (p. 13, cited in Balemir, 2009, p. 2)
  3. Anxeity adalah ancaman emosional yang dihadapi oleh individu yang berkaitan erat dengan kepribadianya (Mei, 1977, dikutip dalam Bekleyen, 2004, p. 50, cited in Balemir, 2009, p. 10).
  4. Anxiety adalah Bersifat SUBJECTIVE terhadap rasa tengang, takut, gugup dan kuatir (Spielberger, 1983, dikutip di Horwitz et al. p. 27, cited in Balemir, 2009, p. 10).
  5. Kecemasan adalah Ketakutan yang bersifat samar dan tidak langusng menuju pada object yang merupakan bagian dari keadaan emosional (Scovel, 1978, dikutip dalam Cheng, 2005, hal. 8, cited in Balemir, 2009, p. 10).).
  6. Krakteristik kecemasan: keadaan takut, Takut, tegang, gelisah (Brown, 1994; Horwitz et al 1991; Scovel, 1991 , cited in Balemir, 2009, p. 10)

Jenis kecemasan:

  1. Trait anxiety, (Brown, 1994, cited in Balemir, 2009, p. 11) adalah kecemasan yang berasal dari yang mucnul dari karakteristik pribadi. Trait anxiety: Philips, 1992, cited in Balem, 2009, p. 11) adalah kecemasan individu sebagai sebuah reaksi terhadap hampir setiap situasi yang dia hadapi, sehingga kecmasan ini berdampak negatif pada dalam mempengaruhi memori dan fitur kognitif (MacIntyre & Gardner, 1991, cited in Balemir, 2009, p. 11).
  2. State anxiety: kecemasan yang muncul dari kondisi pada situasi tertentu. Young (1991, cited in Balem, 2009, p. 11)) kecemasan muncul karena di picu oleh kondisi tertentu dan bukan merupaakan fitur yang permanen. Brown (1994, cited in Balemir, 2009, p. 11) kecemasan muncul dari sebuah stimulus yang bersifat sementara. Contoh misal seseorang saat melakukan written examination
  3. Situation specific anxiety: adalah kecemasan yang disebabkan oleh kondisi pada situasi tertentu (Wang, 1998, cited in Balemir, 2009, p. 12). Dicontohkan adalah dalam foreign language anxiety karean menglami proses pemeblajaran bahasa bagamana seorang learner beruasaha untuk berulangkali menggunkaan bahasa (MacIntyre & Gardner, 1991, cited in Balem, 2009, p. 11)

Kecemasan bahasa asing:

  • Kecemasan bahasa asing adalah: kekhawatiran dan ketegangan dalam belajar bahasa kedua (Maclyntyre & Garden, 1994, p. 284, cited in Balemir, 2009. p. 2). Sebagian besar orang gagal belajar bahasa karena memiliki kecemasan (Horwitz et al., 1991, cited in Balemir, 2009, p. 13)
  • Sumber: learner menjadi semakin cemas saat mereak tidak bisa melakukan peningkatan berbahasa dan kemmemuan bahasa yang buruk menjadikan learner menjadi cemas Balemir, 2009, p. 13)
  • (Ohata 2005a, cited in Balem, 2009, p. 15) jantung berdebar dan berkeringat saat menjawab pertanyaan dan selama proses presentasi di kelas. Aydin, 2001, learner merasa terhambat dan frustasi saat kecemasan. (salah satu dampak kecemasan)
  • SLSAS (second language speaking anxiety scale) di pakai oleh Woodrow, 2006, cited in Balemir, 2009, p. 18) dalam meukur kecemasan bahasa kedua
  • Foreign language speaking anxiety: Wilson (2006) (Balem, 2009, p. 19) Speaking sebagai salah satu sumber utama dalam kecemasan belajar bahasa, hal ini di alami oleh banyak siswa

Speaking as a source of anxiety:

  • Speaking adalah bentuk skill produktif dan keterampilan interaktif yang memiliki perbedaan dengan menulis dimana memperhatikan sisi grammatical, leksical dan wacana yang berbeda dengan writing (Carter & Nunan, 2002, cited in Balemir, 2009, p. 19).
  • Dalam berbicara bahasa asing secara efektif memerlukan kompetensi komunikasi dimana hal ini sulit dilakukan oleh siswa, kompetensi komunikasi sendiri adalah kemampuan menymapiakn dan menginterprestasikan pesan dan negoisasi makna interpersonal dalam suatu kontek (Brown, 1994, p. 227, cited in Balem, 2009, p. 20)
  • Komptensi komunikasi ini mencakup, komptensi grammatical, kompetensi wacana, komptensi social linguistic dan kompetensi strategi. DALAM speaking memang harus mencakup ke empat kompetesi dalam speaking itu sendiri, akan tetapi disis lain hal ini menjadi hal yang kompleks bahkan menjadi kesulitan peserta didik sehingga mereka merasa cemas dalam komunikasi lisan
  • Gramatikal kompetensi: Shuumin, 1997, cited in Balemir 2009, p. 20) komptenesi grammatical adalah penguasaan tata bahasa yang mencakup elemen sepserti morphology, sintaksis, kosa kata, dan mekanik (suara, pola, intonasi dan stress pada bahasa terntu (Scarcella & Oxford, 1992, dikutip dalam Shumin, 1997).
  • Kompetensi Wacana: (Brown, 1994, cited in Balem, 2009, p. 21) kompetensi wacana adalah pengetahuan dalam menyampaikan pesan secara korehence. Sehingga kalimat atau ide dapat disampaikan secara logis dan bermakna pada wacana tertentu (Shumin, 1997, cited in Balemir, 2009, p. 21)
  • Kompetensi sosial-linguistikBrown, 1994, cited in Balemir, 2009, p. 21) kompetensi sosio-linguistik adalah kemampuan dalam penggunaan bahasa sesuai dengan konteks unsure social dimana bahasa tersebut digunakan.
  • Kompetensi Strategis: Brown, 1994, cited in Balemir, 2009, p. 21) Kompetensi Strategis adalah kemampuan dalam menjaga komunikasi pada saat terjdai beberapa kekurangan pada saat komoounikasi berlangusung. Sehingga siswa dapat mengunakan strategi tertentu saat mereka menghadapi kesulitan dalam menyampaikan idenya.

Other sources of foreign language speaking anxiety

Aydin, 2001, cited in Balemir, 2009, p. 23 menjelaskan bahwa dia menemukan 4 sumber utama kecemasan daam menulis dan berbicara di kelas setelah melkukan penelitian dalam konteks EFL Turki.

Personal Reasons:
  • Alasan pribadi adalah penilaian diri sendiri terhadap kemampunnya dan di bandingkan dengan orang lain. Sedangkan dampak negatif dari evaluasi diri sendiri yang memunculkan evaluasi negatif menjadikan kecemasan terhadap learner (Price, 1991, cited in Balemir, 2009, p. 23)
  • Yan and Howitz, 2008, cited in Balem, 2009. p. 25, siswa merasa cemas saat mereka membandingkan kamampuan diri mereka dengan teman-temanya. Misal teman mereka lebih benar dari mereka (SOURCE)
  • Gregersen and Horwitz, 2002, siswa merasa takut adanya evaluasi negatif, Balem, 2009, p. 25
Learners’ belief: 
  • Kepercayaan learner dalam belajar bahasa, keyakinan sendiri tentang pembelajaran bahasa juga telah ditemukan berkaitan dengan kecemasan bahasa asing dan kecemasan berbicara. Beberapa siswa mungkin berpikir bahwa keterampilan tertentu yang lebih penting daripada yang lain dalam belajar bahasa. Misalnya, Ohata (2005a) menjelaskan bahwa beberapa peserta didik dapat memberikan lebih penting untuk struktur gramatikal dari pengucapan sementara beberapa pelajar lain mungkin berpikir bahwa membaca adalah keterampilan yang paling penting. Menurut Aydın (2001), peserta didik dapat memiliki ide-ide yang tidak realistis tentang pembelajaran bahasa, dan ide-ide ini bisa memiliki efek negatif pada prestasi mereka. Artinya, jika peserta didik "keyakinan tidak sesuai dengan situasi nyata, mereka mungkin mulai merasa cemas (Ohata, 2005a). p. 26
Teacher Manner:
  • (Aydın, 2001; Bekleyen, 2004, cited in Balemir, 2009, p. 27) metode koreksi kesalahan dan sikap guru terhadap siswa dapat menyebabkan kecemasan.
  • Cheng, 2005, cited in Balemir, 2009, p. 28) peran dan karakteristik guru juga mempengaruhi kecemasan, guru yang ramah santai, dan sabar dapat mengurangi kecemasan. Dan hal ini berbeda dengan guru yang memberikan kuis dadakan, komunikator yang buruk, mendadak, mencemooh dan kaku dapat menyebabkan kecemasan.
  • Guru tidak boleh interupsi siswa pada saat siswa speech. Hal ini dapat mengakibatkan siswa cemas bahkan diam, memecah konsentrasi, lupa karena gangguan tersebut (salah satu cara mengatasi kecemasan)

Pengajaran dan Pengujian Prosedur:

  • Beberapa kegiatan pengajaran biasanya dilakukan dengan presentasi, kerja tim, role play dan lain-lain.
  • (Aydın, 2001; Woodrow, 2006, Young, 1991, cited in Balemir, 2009, p. 29) menyatakan dalam penelitianya bahwa laearner cemas saat mereka harus berbicara di depan kelas, guru dan teman lainya misal dalam presentasi.
  • Cheng, 2005, cited in Balemir, 2009, p. 29) berbicara didepan kelas menrangsang kecemaasan siswa.
  • Worde, 2003, cited in Balemir, 2009, p. 29) cara guru dengan memanggil siswa dikelas menjadikan siswa cemas.
  • Siswa kuatir saat ujian akan mendapatkan nilai rendah (Aydın, 2001; Ohata, 2005a, cited in Balem, 2009, p. 30). (salah penyebab kecemasan)
  • Kecemasan yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kurang berhasilnya dalam tes bahasa, siswa dengan sedikit keceamsan dapat melakukan performa bahasa lebih baik dan menggunakan struktur bahasa yang lebih kompleks (Phillips, 1992, cited in Balemir, 2009, p. 30) (salah satu dampak kecemasan)
  • (Batumlu & Erden, 2007; Dalkılıç, 2001; Huang, 2004; Wilson, 2006, cited in Balemir, 2009, p. 30) SOURCE: terdapat factor-faktor lain yang mempengaruhi kecemasan siswa seperti, jenis klamin, motivasi dan time of starting to learn English.
  • Huang, 2004, cited in Balemir, 2009, p. 31) siswa perempuan lebih cemas dari pada siswa laki-laki

References

  • Aydın, B. (2001). A study of sources of foreign language classroom anxiety in speaking and writing classes. Unpublished doctoral dissertation, Anadolu University, Eskişehir.
  • Bozatlı, İ. (2003). Academic oral presentation skills instructors' perceptions of the final project presentation rating scale used in the modern languages department at Middle East Technical University. Unpublished master's thesis, Bilkent University, Ankara
  • Brown, H. D. (1994). Principles of language learning and teaching. New Jersey: Prentice Hall Regents.
  • Carter, R., & Nunan, D. (2002). The Cambridge guide to teaching English to speakers of other languages. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Cheng, C. J. (2005). The relationship to foreign language anxiety of oral performance achievement, teacher characteristics and in-class activities. Unpublished master's thesis, Ming Chuan University.
  • Cheng, Y. S. (2001). Learners' beliefs and second language anxiety. Concentric: Studies in English Literature and Linguistics, 27(2), 75-90.
  • Gregersen, T., & Horwitz, E. K. (2002). Language learning and perfectionism: Anxious and non-anxious language learners' reactions to their own oral performance. The Modern Language Journal, 86(4), 562-570.
  • Horwitz, E. K. (2001). Language anxiety and achievement. Annual Review of Applied Linguistics, 21, 112-126.
  • Horwitz, E. K., Horwitz, B. M., & Cope, J. (1986). Foreign language classroom anxiety. The Modern Language Journal, 70(2), 125-132.
  • Horwitz, E. K., Horwitz, B. M., & Cope, J. A. (1991). Foreign language classroom anxiety. In E. K. Horwitz & D. J. Young (Eds.), Language anxiety: From theory and research to classroom implication (pp. 27-36). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
  • Huang, J. (1998, April). Students' learning difficulties in a second language speaking classroom. Paper presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, San Diego, CA.
  • Huang, H. (2004). The relationship between learning motivation and speaking anxiety among EFL non-English major freshmen in Taiwan. Unpublished master's thesis, Chaoyang University of Technology.
  • Ohata, K. (2005a). Language anxiety from the teacher's perspective: Interviews with seven experienced ESL/EFL teachers. Journal of Language Learning, 3(1), 133-155
  • Phillips, E. M. (1992). The effects of language anxiety on students' oral test performance and attitudes. The Modern Language Journal, 76(1), 169-176.
  • Price, M. L. (1991). The subjective experience of foreign language anxiety: Interviews with highly anxious students. In E. K. Horwitz & D. J. Young (Eds.), Language anxiety: From theory and research to classroom implications (pp. 101-108). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
  • Wilson, S. T. J. (2006). Anxiety in learning English as a foreign language: Its associations with student variables, with oral proficiency, and with performance on an oral test. Unpublished doctoral dissertation, Universidad de Granada.
  • Woodrow, L. (2006). Anxiety and speaking English as a second language. Regional Language Centre Journal, 37(3), 308-328.
  • Yan, J. X., & Horwitz, E. K. (2008). Learners' perceptions of how anxiety interacts with personal and instructional factors to influence their achievement in English: A qualitative analysis of EFL learners in China. Language Learning, 58(1), 151-183.
  • Young, D. J. (1991). The relationship between anxiety and foreign language oral proficiency ratings In E. K. Horwitz & D. J. Young (Eds.), Language anxiety: From theory and research to classroom implications (pp. 57-63). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.
  • Zhanibek, A. (2001). The relationship between language anxiety and students' participation in foreign language classes. Unpublished master's thesis, Bilkent University, Ankara
Rangkuman atau summary ini bersifat subjective dari pemahaman penulis jadi jika terjadi kesalahan pengertian harap dimaklumi, tujuanya adalah membantu teman- teman yang hendak melakukan penelitian pada bidang kecemasan dalam pemebelajaran bahasa asing. Untuk sumber utama adalah Creating low anxiety classroom environment oleh Horwitz

Source: Balemir, Serkan Hasan. (2009). The Sources of Foreign Language Speaking Anxiety and The Relationship Between Proficiency Level and Degree of Foreign Language Speaking Anxiety. Unpublished master’s thesis. Ankara Bilkent University.

2 Responses to "The Sources of Foreign Language Speaking Anxiety"

  1. Kira² bisa dapat artikelnya Balemir n Aydin d mna ya? Mohon bantuannya🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan klik Unduh untuk Balemir. Kalau yang Aydin belum ada nhi Mbak

      Hapus