Benarkah Mereka Disebut Sebagai Ustadz Radikal?

Kata 'radikal' hari ini menjadi sebuah momok. Bukan hanya terkesan seram tetapi juga berbahaya. Monopoli makna dari kaum tertentu menjadikan kata ini menjadi semakin menyempit bahkan memburuk. Kata yang seringkali diasosiasikan dengan teorirsme, maka mereka yang mendapatkan gelar radikal tidak ubahnya seberbaya teroris.
Sumber: asumsi.co

Kata 'radikal' juga kerap mendapatkan imbuhan 'isme' menjadi 'radikalisme'. Akhiran '-isme' bermakna 'paham'. Secara makna 'radikalisme' sekarang ini juga mengalami penyempitan dan peyorasi dimana makna tersebut seringkali tersemat pada mereka yang beragama Islam.

Salah satu contoh konkrit penggunaan penyimpan dan peyorasinya adalah pada salah satu judul media berikut:

"20 Daftar Ulama Penyebar Paham Radikalisme Ternyata Hoax, Begini Fakta Sebenarnya"

Dalam situs asumsi.co memberikan daftar 20 Ustad Radikal yang ditampilkan dalam bentuk Gambar yang bersumber dari akun Facebook Generasi Muda NU.

1. Abdul Somad, Lc.
2. Sugi Nur Raharja
3. Maheer Thuwailibi
4. Tengku Zulkarnaen
6. Hasyim Yahya
7. Khalid Basalamah
8. Reza Basalamah
9. Mundzir Situmorang
10. Adi Hidayat
11. Rizieq Syihab
12. Haikal Hasan
13. Ismail Yusanto
14. Ahmad Sukino
15. Firanda Andirja
16. Bachtiar Natsir
17. Riyadl Bajrey
18. Badrussalam
19. Salim A Fillah
20. Yazid Jawaz

Akan tetapi kita tidak akan membahas bagaimana mereka disebut radikal. Akan tetapi kita akan habas adalah benarkah penyematan kata radikal dalam sudut pandang bahasa.

Makna 'Radikal'

Kacamata yang paling tepat untuk melihat kedua makna kata 'radikal' adalah dari sudut pandang Semantik. Semantik adalah salah satu kajian bahasa untuk memahami makna kata. Makna kata tersebut terjadi perubahan yakni mengalami perubahan makna. 

Terdapat 5 jenis perubahan makna dalam semantik. Perubahan tersebut yaitu perubahan makna meluas (generalisasi), menyempit (spesialisasi), membaik (ameliorasi), memburuk (peyorasi), pertukaran makna (sinestesia), dan persamaan makna (asosiasi).

Dari empat jenis perubahan makna diatas, saya menyimpulkan bawa 'radikal' mengalami tidak hanya satu jenis perubahan makna, tetapi dua perubahan sekaligus. 1) perubahan makna menyempit (spesialisasi) dan 2) perubahan makna memburuk (peyorasi). Mengapa demikian.

1. Makna Menyempit 'radikal'

Bagaimana 'radikal' bisa dikatan menyempit? kita dapat makna lexical secara mudah dari kata ini di KBBI. Arti kata 'radikal' menurut KBBI yiatu:

ra.di.kal
1. a secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang --
2. a Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan)
3. a maju dalam berpikir atau bertindak

Dari arti kata diatas, radikal memiliki makna adanya suatu sifat yang dimiliki seseorang atau suatu tindakan yang sangat berprinsip akan suatu berubahan. Bahkan pada makna ke-3 bahwa radikal adalah tindakan yang baik kerena berasosiasi dengan tindakan yang maju. 

Sampai disini sudah sangat jelas bahwa, radikal memiliki makna yang baik dan posifit, bukan suatu tindakan yang negatif. Boleh dikatakan bahwa radikal adalah suatu sifat terhadap suatu tindakan anti mainstrem, diluar kebiasaan, atau out of the box yang semua mengarah kepada hal yang baik.

Pembatasan makna 'radikal' hari ini terjadi karena kata ini sekarang hanya diartikan sebagai sutu tindakan yang mengancam dan hanya dinisbatkan untuk mereka yang muslim, mereka yang lantang, mereka yang kritis, dan mereka yang oposisi. 

2. Makna Peyorasi

Kata 'radikal' yang sudah sempit hari semakin memburuk. Padahal sudah jelas dan terang bahwa secara lexical bermakna baik. Kata radikal mengalami peyorasi karena kata ini secara otomatis memiliki referensi sebagai suatu sifat berikaitan dengan teorisme, anti pemerintah, anti kebijakan, dan lain sebagainya. 

Mereka yang tidak suka terhadap seseorang atau sengaja melakukan kebohongan (hoax) akan menyematkan kata 'radikal' terhadap orang lain, maka mereka yang telah dicap radikal secara otomatis adalah orang - orang yang buruk bahkan berbahaya. 

Kesimpulan

Sekarang ini, kata 'radikal' tidak lagi digunakan untuk penyebutkan terhadap suatu tindakan perubahan. Kita lebih cenderung menggunakan kata 'out of the box' dan 'anti mainstream'. Padahal kedua kata tersebut memiliki makna sama dengan 'radikal'. 

Akan tetapi hari ini belum ada kata ganti secara resmi untuk menggantikan kata 'radikal' meskipun secara makna sudah mengalami spesialsiasi dan peyorasi. Kata ini hanya ditinggalkan dan dimonopoli untuk kepentingan tertentu. 

Oleh sebab itu, judul suatu berita online yang menyebutkan "Polemik Daftar Ustaz Radikal Versi Generasi Muda NU: Ada Nama UAS" seperti yang ditulis oleh Kumparan.com adalah benar. 

Mereka adalah ustadz - ustadz radikal, yang memajukan bangsa dari akar-akarnya. Mereka mencerdaskan akar rumput dengan tausiyah yang menggugah secara mendasar agar ada perubahan yang lebih baik terhadap negeri ini

Dapatkan udpate travel terbaru

0 Response to "Benarkah Mereka Disebut Sebagai Ustadz Radikal?"

Posting Komentar